Bermalam di NICU

07.51

Sejak lahir tangan dan kaki kecilmu sudah merasakan tajamnya jarum infus

Bermalam di NICU
Lahir dengan berat badan kurang, mengharuskan anak kami dirawat intensif di ruang NICU. Sehari setelah kelahirannya, dia sudah harus berpindah ke RS lain demi perawatan lanjutan.

Begitu sampai di RS pakam, pihak RS bersama dengan dokter toraks langsung melakukan observasi lanjutan, aku yang saat itu masih dalam tahap pemulihan pasca operasi di RS daerah medan terus berdoa dan menanti kabar terbaru dari sana.

Setelah dilakukan tindakan pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter toraks, alhamdulillah bayi kami dinyatakan baik-baik saja. Paru-parunya berkerja dalam keadaan baik dan tidak ada yang perlu di cemaskan. Namun anak kami tetap harus di rawat dalam beberapa hari, untuk memantau perkembangan dan pertambahan berat badannya

2 Februari 2019
Pihak RS telah mengizinkanku untuk pulang ke rumah, saat itu ingin rasanya segera menyusul bayiku ke pakam. Namun suami dan keluarga melarang, aku harus menunggu lagi untuk bertemu dengannya.

3 Februari 2019
Akhirnya aku di izinkan untuk pergi ke pakam, besar harapanku saat itu agar di izinkan untuk ikut bersama suami menginap di RS.
Sejak anak kami di pindahkan ke RS pakam, suami lah yang terus berjaga disana untuk mengetahui setiap tindakan yang dilakukkan dokter karena setiap tindakan harus dengan persetujuan orang tua bayi.

Banyak orang yang heran dengan pemulihan pasca operasi ku, 27 jam pasca operasi aku sudah mampu berjalan dan berdiri cukup lama untuk melihat anak kami yang saat itu dirawat di ruang NICU.
Dan 3 hari pasca operasi aku juga sudah melakukan perjalan jauh ke pakam untuk menemui anak kami.
Aku selalu percaya, jika anak kami saja bisa sebegitu kuat bagaimana mungkin aku lemah dan menyerah dengan rasa sakit. Rasa ingin bertemu dan memeluknya menguatkkan ku saat itu.

Gambaran ruangan NICU, sumber gambar :http://bunda.co.id/
Berada di ruang NICU menyebabkan suami cukup sulit mengambil foto anak kami, dia hanya bisa mencuri-curi potret anak kami saat masih di masukkan ke rang IGD. Foto itu jugalah yabg menjadi penyemangatku saat itu.

Bermalam Bersama
Aku bersyukur akhirnya kami bertiga dapat berkumpul bersama, walau tentunya aku dan suami di ruang inap keluarga sedangkan anak kami di ruangan NICU saat itu.

Tapi dengan menginap disana, semakin memudahkan ku untuk melihatnya secara langsung, menggendongnya dan juga memberikan asi langsung kepadanya walaupun saat itu aku belum mampu memberikan asi esklusif.

Setiap saat kunjungan ke ruang NICU jadi hal yang selalu menyenangkan, melihat perkembangannya, melihat alat indikator detak jantungnya dan melihatnya minum asi dengan lahap jadi penyemangat kami bersama.

6 Februari 2019
Aku harus kembali ke medan saat itu, untuk pemeriksaan bekas jahitan operasi.
Jumlah pasien yang cukup banyak saat itu, benar-benar sangat memakan waktu. Aku harus mengantri dari pagi hingga siang.

Baca juga: Pejuang Kecil (Part I)

Saat bersiap-siap akan kembali ke pakam, suami mengabarkan jika anak kami dapat pulang ke rumah dan berkumpul bersama kami.

Alhamdulillah, berita yang sudah lama ku nanti.

Seminggu menginap di NICU
Darinya aku paham
Semangat itu saling menularkan
Darinya aku ingat
Untuk lebih banyak bersyukur dengan segala nikmat Allah Ar Rahman Ar Rahiim


You Might Also Like

2 comments